Sejarah Singkat & Pandangan Ilmiah tentang Analisis & Tafsir Mimpi

Analisis mimpi, juga disebut sebagai tafsir mimpi, bergantung pada gagasan bahwa Anda dapat memberi makna pada mimpi Anda. Proses ini telah digunakan dalam berbagai macam latar, termasuk peradaban kuno, berbagai agama dan dapat dicatat hingga hari ini dengan pergi ke toko buku dan membeli buku yang akan membantu Anda menafsirkan mimpi Anda sendiri.

Peradaban kuno memandang mimpi sebagai alat komunikasi. Beberapa peradaban ini termasuk Babilonia dan Mesir. Orang Mesir kuno menghormati tafsir mimpi, melihatnya sebagai alat untuk meramalkan masa depan, menyembuhkan penyakit, dan berkomunikasi dengan para dewa. Peradaban ini bahkan memiliki dewa atau dewi mimpi bersama dengan beberapa jenis literatur yang membantu dalam menafsirkan mimpi. Jenis komunikasi ini dipandang sebagai komunikasi supernatural atau intervensi dari kodrat ilahi. Karena itu, hanya orang dengan kekuatan supranatural yang bisa menafsirkan mimpi tersebut.

Mimpi adalah bagian integral dari beberapa agama. Misalnya di dalam Alkitab disebutkan bahwa Yusuf dikenal sebagai penerjemah mimpi. Mimpi juga disebut penglihatan. Ada beberapa tulisan lainnya dari dalam berbagai kitab suci yang memberikan wawasan tentang gagasan bahwa mimpi adalah bagian integral dari komunikasi ilahi dalam iman tertentu ini.

Penafsiran mimpi berlimpah di budaya lain juga. Pengobatan tradisional Tiongkok memiliki buku tafsir mimpi sendiri, berjudul Prinsip Mulia Penafsiran Mimpi. Selama Abad Kegelapan, mimpi ditafsirkan sebagai jiwa yang berjalan sepanjang malam, dan mimpi itu berasal dari iblis.

Bahkan dalam budaya kita saat ini, mimpi dianggap sebagai simbol dan penting. Kami memandang mereka memiliki makna yang lebih dalam, mampu mengungkap rahasia jiwa yang dalam, memberi tahu kami apa masalah mendasar kami dan apa yang secara tidak sadar kami perjuangkan.

Pada awal abad ke-17, seorang dokter bernama Sir Thomas Browne menulis tentang bagaimana menafsirkan mimpi. Pada abad ke-19, Sigmund Freud, sebagai salah satu komponen dari teori psikoanalisisnya, menulis buku The Interpretation of Dreams.

Menurut Freud, mimpi adalah cara untuk melihat ke dalam jiwa kita, untuk membuka alam bawah sadar kita. Alam bawah sadar kita menyimpan keinginan dan keinginan masa kecil yang dianggap tidak diinginkan. Mimpi adalah cara bagi kita untuk memenuhi keinginan dan keinginan bawah sadar ini. Sebagian besar perjuangan kita sebagai manusia berada di antara keinginan terlarang ini dan mencoba menekannya. Freud merasa bahwa melalui analisis mimpi, kita dapat menemukan akar penyebab masalah kita, melalui analisis simbol dan perasaan yang kita alami selama mimpi.

Mimpi dipicu oleh apa yang disebut sisa-sisa pengalaman hari yang lewat. Sisa-sisa pengalaman ini terdiri dari sisa-sisa peristiwa yang terjadi sehari sebelumnya. Ini termasuk pikiran, keinginan dan keinginan yang tidak diinginkan yang kita perjuangkan.

Keinginan dan keinginan ini terdistorsi, menyebabkan kebingungan tentang apa yang diwakili oleh mimpi itu. Karenanya tafsir mimpi menarik minat banyak orang walaupun berbagai hal menghalangi kita untuk mengingat keinginan terpendam kita, menekannya ke alam bawah sadar kita. Melalui mimpi, keinginan dibawa kembali ke permukaan. Oleh karena itu, mimpi bertindak sebagai “pemenuhan” dari keinginan yang tertekan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *